Tuesday, October 10, 2017

~ GAMIT ~


BUBUR Asyura. Sesuatu yang sering menggamit cerita saat 10 Muharram membuat singgah. Cerita zaman anak-anak yang masih lagi teramati sehingga dewasa menginjak usia.

Bubur Asyura antara hal yang menyatukan aku dan anak-anak sebaya pada zaman itu. Pada acara yang kami anak-anak kecil ini sifatkan sebagai keraian yang menggembirakan, kami sering diharapkan tugas untuk membawa bahan-bahan masakan dari rumah masing-masing untuk diserahkan pada sang kepala acara.

Saban tahun. Kegembiraan itu menjadi hal yang paling diraikan.

Malah sehingga terjauh di hiruk pikuk kota ini pada selangan tahun yang telah mengubah kegembiraan itu, jauh di sudut hati aku sering merindukan itu.

Bubur Asyura masih menjadi kegemaran biarpun sudah tidak ramai lagi yang menjadikan ia acara terpanggil saat Muharram membuat jengah. Malah ia menjadi semakin asing untuk generasi hari ini.

Dan, setelah beberapa tahun tidak berpeluang merasa, hari ini ada ingatan yang dikirimkan kepada itu.

Senyum. Hal-hal yang kecil yang sudah cukup untuk menggembirakan seorang aku. Tidak tertunggukan bulan dan bintang, cukup sekadar pensel warna kecil yang mampu membuat aku girang mengisi hari.

"Hari itu CA kata dia tak pernah makan bubur asyura ni.
"Jomlah kita hantar rumah dia.."
"Err.. tak payahlah..
"Okla.. adik tahu kenapa..

[Sekeping cheritera..]

No comments: