Wednesday, October 18, 2017

~ RADAR ~

SIMKAD baru. Nombor baru. Pada suatu pusingan radar yang lebih minimalis. Tidak bersempena, cuma barangkali perlu.

[Biar ke-hutan]

Tuesday, October 17, 2017

- URAT BELIKATKU ~

IBU masih berkeadaan sama. Dan, kami adik beradik menelan kelat yang tidak pun terkurang meski bergulakan apapun.

[Bicara-ku pada laut..]

Monday, October 16, 2017

~ SEKEPING LUKA ~


IBU terlantar sakit. Tiba-tiba semenjak kelmarin. Sakit yang terpalingnya semenjak perginya ayah kurang lebih 1577 hari yang lalu.

Sugul seluruhnya hari kami sehingga terbawa deras ke pantai timur semenanjung tanah air.

Ibu.. ibu.. 

Dan, pesan-pesan kamu itu menjadi luka yang tidak terluahkan.

[Pecah]

Saturday, October 14, 2017

~ BEAUTIFUL CREATURES ~









 TAJUK: Beautiful Creatures
 KARYA: Kami Garcia & Margaret Stohl
 TERBITAN: Little Brown & Company
 CETAKAN: Pertama (2009)
 HALAMAN: 563
 HARGA: USD$7.99

Friday, October 13, 2017

~ SAPA ~


KAMU ini umpamanya mempunyai satu kuasa psikik yang mampu sahaja mendengar luah-luah kecilku.

Baru semalam, aku bicarakan soal kamu sama teman yang setepat deras membaca kecamukan yang berselirat dalam diri.

Yaaa Tuhannn.. baru semalam. 

Dan hari ini, aku disapa kamu dengan pelawaan makan tengahari setelah bersenyapan sekian lamanya.

Namun, Scorpio tetaplah Scorpio... Lama aku renung mesej itu. Lama.. sebelum memberi jawapan  kurang lebih tiga jam kemudiannya.

[Psikik]

Thursday, October 12, 2017

~ CERITA SECAWAN DARK MOCHA FRAPPUCINO ~


DIKEJUTKAN dengan secawan Dark Mocha Frappucino di meja lewat tengahari tadi. Tiada penama, cuma dikatakan ia untuk aku. Aku usahakan bertanya pada mereka yang berada di kiri dan kanan kalau-kalau mereka tahu siapakah sang pemberi.

Semuanya mengangkat bahu.

Apapun terima kasih untuk hal-hal kecil ini. Semoga disenangkan juga untuk hal kegembiraan kamu wahai sang pemberi.

[Aroma] 

Wednesday, October 11, 2017

~ TIDAK KE ASAL ~


MELARIKAN diri, dan masih hari ini. Bocor-bocor sudah tertampal, cuma letak duduknya sudah tidak serupa yang asalnya.

Jika tampalnya lebih awal, barangkali masih bermiripan yang asal. Namun saat ini ia sudah sedikit terjauh. Lalu mungkin terlihat baik begitu.

[Ter-jaoh serupa..]

Tuesday, October 10, 2017

~ GAMIT ~


BUBUR Asyura. Sesuatu yang sering menggamit cerita saat 10 Muharram membuat singgah. Cerita zaman anak-anak yang masih lagi teramati sehingga dewasa menginjak usia.

Bubur Asyura antara hal yang menyatukan aku dan anak-anak sebaya pada zaman itu. Pada acara yang kami anak-anak kecil ini sifatkan sebagai keraian yang menggembirakan, kami sering diharapkan tugas untuk membawa bahan-bahan masakan dari rumah masing-masing untuk diserahkan pada sang kepala acara.

Saban tahun. Kegembiraan itu menjadi hal yang paling diraikan.

Malah sehingga terjauh di hiruk pikuk kota ini pada selangan tahun yang telah mengubah kegembiraan itu, jauh di sudut hati aku sering merindukan itu.

Bubur Asyura masih menjadi kegemaran biarpun sudah tidak ramai lagi yang menjadikan ia acara terpanggil saat Muharram membuat jengah. Malah ia menjadi semakin asing untuk generasi hari ini.

Dan, setelah beberapa tahun tidak berpeluang merasa, hari ini ada ingatan yang dikirimkan kepada itu.

Senyum. Hal-hal yang kecil yang sudah cukup untuk menggembirakan seorang aku. Tidak tertunggukan bulan dan bintang, cukup sekadar pensel warna kecil yang mampu membuat aku girang mengisi hari.

"Hari itu CA kata dia tak pernah makan bubur asyura ni.
"Jomlah kita hantar rumah dia.."
"Err.. tak payahlah..
"Okla.. adik tahu kenapa..

[Sekeping cheritera..]

Sunday, October 08, 2017

~ BERJIWALAH MEMORI ~


TERTARIK dengan satu persembahan seni yang dipertontonkan lebih dua hari lalu. Satu persembahan kecil namun berjiwa besar dengan mengajak kita berfikir tentang sesuatu.

Sesuatu tentang kehilangan.

Bagaimana memori yang berkotak dalam fikiran dan memori yang kini tersimpan dalam alir teknologi dunia hari ini bermain fungsinya.

Apakah kekal memori yang pernah kita cipta bersama orang-orang yang kita sayang, dan apakah memori itu mampu mencetus rindu atau menambah kasih pada mereka. Apatah lagi setelah kehilangan.

Mengalir air mata.

Memori sentiasa menjadi hal yang terlalu besar memegang jiwa. Dan, betapa kita jika berlaku kelumpuhan memori yang pernah ada bersama yang tersayang...

Memori. Memori. Memori. Dan Memori..

Barangkali kerana itu juga babak akhir dalam naskhah Bisik Pada Langit tatkala footage video Hajar dipertonton kepada keluarganya, menjadi saksi air mata yang paling deras membuat limpah. Meski hanya seringkas itu, memori menjadi hal yang paling luka untuk sebuah cerita kehilangan.

Justeru, hargainya. Simpanlah dia dalam kotak fikir yang kekal terbawa hingga ke hujung nyawa. 

Untuk mereka yang pernah kehilangan atau sedang dalam kehilangan... lihatlah memori yang pernah menghidupkan kita dalam segala rasa itu.

[Kamu..]

Saturday, October 07, 2017

~ DIKATAKAN ATAU TIDAK DIKATAKAN: ITU TETAP CINTA ~









TAJUK: Kumpulan Sajak: Dikatakan Atau Tidak Dikatakan Itu Tetap Cinta
KARYA: Tere Liye
TERBITAN: PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta
CETAKAN: Pertama (2016) & Kedua (Mac 2017)
HALAMAN: 103
HARGA: Rp77.000

Friday, October 06, 2017

~ SEAKAN KANVAS ~


MELUKIS merah jantung, bersebelah dua cawan kopi hitam pekat dengan catatan dua puluh empat jam di jarum pendek dan panjangnya yang terpampang pada sekeping dinding putih kosong.

Dan, hasilnya...

[Yang tersia-kan kamu..]

Thursday, October 05, 2017

~ SUSUNAN AKSARA ~


BENARLAH kata Bung, apabila tidak dalam aman, kita akan mudah dekat dengan dengan tulisan.

[Sederetan aksara]

Wednesday, October 04, 2017

~ KE LALU ~


SEHINGGA jelang ke subuh, ralit mengemas timbunan buku-buku yang tidak pernah habis diselesaikan semenjak minggu lalu.

Mencari sesuatu, namun  menjumpai sesuatu yang lain. Paket-paket manis.

Betapa pantasnya masa berlalu, dan betapa indahnya kehidupan lalu yang terisi bersama mereka yang ikhlas membuat damping.

[Bahara]

Tuesday, October 03, 2017

~ SEPERTI, ITU... ~


MELIHAT deretan notifikasi tanpa membuka, sebagaimana menyimpan singgung untuk memelihara aman.

Sekurang-kurangnya, aku cuba.. meski bukan untuk aku.

[Diam] 

Monday, October 02, 2017

~ BUAL ~



BERBUAL-bual dengan lelaki sepet di hujung telefon bimbit. Lama. Dari Shah Alam ke Ampang, ke Kepong, ke Ulu Langat ke Ampang, dan rumah lama. 

Berbual. Sekadar berbual.

[Cherita tanpa ber-cherita] 

~ CHANGE ~

Sunday, October 01, 2017

~ KEBISINGAN SENYAP ~


BILA singgung hanya disimpan, bila amarah harus ditutup, bila segala itu tidak terpeduli. Lalu, ruangilah damai secara sendiri saja.

Aku ke Dewan Filharmonik untuk Beethoven Emperor, demi mereda. Moga aman. 

Selirat bunyi-bunyian yang sepertinya mengekspresi singgung-singgung yang berpakej. Berkelibat jelas sang Beethoven melepaskan rasanya di dada piano seolah wujud pada pandangku saat ini. Saat aku cuba mendamaikan bunyi-bunyi yang menaik turunkan nafas.

Violin, Viola, Cello, Double Bass, Flute, Piccolo, Oboe, Clarinet, Bassoon, Horn, Trumpet, Timpani, Percussion, Harp dan yang lain-lainnya berkecamukan memberi lega.

Bunyi-bunyian yang jelas meredakan kebisingan senyapku.

[Se-moga berkesembuhan]

Saturday, September 30, 2017

~ MESIN KIRAAN ~

AMAL jariah. Ringkas perkataannya, namun maksudnya sangat menjelas. Betapa kalau tentang yang namanya aku, mudah sekali kamu bersapa sama mesin kiraan.

Kalau tidak kamu katakan sekalipun, aku sendiri terpaling pasti yang  keringat kamu itu tidak akan pernah percuma untuk yang namanya aku. Tidak akan pernah. 

Belum sempat mengalih singgung semalam, hari ini dicuit lagi..

Oktober sering bersambut begitu barangkali..

[Kamus: keikhlasan]

Friday, September 29, 2017

~ TERJEMAHAN DIA ~

DIBAWANYA aku melihat laut. Langit merah kalau ada untungnya. Atau bau harum kopi yang membuat lega.

Yaa, tiba-tiba tanpa perlu aku minta sua, atau terfikir dengan mahu untuk diatur-atur pada babak seperti itu.

Aku pandang dia. 

Dia yang tidak pernah tahu untuk menzahirkan kata kemaafan untuk setiap canggung yang terlaku dirinya.

Dia yang tidak pernah bijak menutur bahasa-bahasa mudah untuk aku ertikan sebagai penarikan balik laku canggung yang terberi.

Namun, dia berdiri dengan adanya dia. Menggantikan segala yang 'tidak pernah dia', kepada sesuatu yang tidak diduga-duga atur babaknya.

Dan, itu sebenarnya adalah terjemahan kata maafnya untuk setiap canggung yang terlaku dia.

Begitu cara dia menyatakan maaf. Dan, aku tentu saja mengerti. 

Itu cara dia, seorang sahabat Scorpio yang telah tiada namun pernah sentiasa ada kala aku mahu mendengarkan rasa.

Dan, kalau dia masih ada... barangkali dia masih lagi akan menterjemahkan kata maafnya dengan hal-hal yang seperti itu.

Terjemahan dia.

[Bahasa bukan tutur]

Thursday, September 28, 2017

~ DUA ~

DUA kejadian, dari dua orang yang berbeza dengan dua singgung yang terasa.

Dihadap aku hari ini.

Kebodohan dari kejujuran yang terpaling lurus.

Nasiblah.

Nafas turun naik. Tidak marah, tidak juga kesal. 

Cuma sedar... yang barangkali aku perlu menjadi adil untuk diri sendiri, bukan orang lain.

[Di-bodoh-kan]

Wednesday, September 20, 2017

~ SEKECIL MANA ~

CERITA-CERITA kehilangan. Semoga kita sentiasa dekat dengan cinta yang terbagi daripada mereka yang menjadi sebahagian hidup.

Sekecil manapun kasih yang dihulur, harga bahagianya tidak mampu diletak harga.

Menopang dagu, dan merenung koyak tampal jalan Ampang.

[Hanya ter-bilang jari]

Tuesday, September 19, 2017

~ PROSES ~

BAHASA dan proses terjemahannya. Rasa dan  kesembuhan lukanya.

Aku cuba buka simpul, agar selirat tidak bergelumang membuat kusut ketat pada ikat mati yang tidak terleraikan.

Harus lebih tenang-tenang saja hidup aman.

[Mata burung]

Monday, September 18, 2017

~ BUKAN HANYA TENTANG KITA ~

TERIMA kasih kerana melihat yang tidak dilihat aku di dalam diri. Bertemu kesempatan yang membuk ruang sedar agar aku lebih menghargai segala yang terpunya.

Hidup ini saing bergantungan, dan bukan hanya tentang kita.

[Seperti di-beli jutawan]

Sunday, September 17, 2017

~ AMAN ~

HARI yang aman. Mengisi kebiasaan-kebiasaan yang telah lama ditinggalkan dek hambatan urus pekerjaan yang bersambungan membuat rentang.

Jambatan Naga yang masih lagi memberi rasa serupa.

Nafas. 

Membawa ke lereng bukit Cameron Highland saat mata terpejam. Perjalanan rasa. Semoga punya kesempatan menghirup udara tanah hijau itu di celah kesibukan yang terbagi.

[Menadah di-dada langet]

Saturday, September 16, 2017

~ OCTAVIA'S WAR ~







 TAJUK: Octavia's War
 KARYA: Beryl Kingston
 TERBITAN: MPG Books Ltd
 CETAKAN: Pertama (2009)
 HALAMAN: 478
 HARGA: UK£19.99

Friday, September 15, 2017

~ BUKAN PEMERAN ~


BAHASA senyapku sering kali terlalu bising untuk mereka yang dekat denganku. Barangkali. Kesenyapan itu juga telah mencetus babak yang di luar jangka awal petang ni.

Lelaki sepet itu muncul di lantai pekerjaan sebagai tanda protes kesenyapanku dek cerita minggu lalu yang belum sendik pada duduk elokya.

Cerita minggu lalu begitu menyesakkan untuk aku timbang kati membuatkan aku memilih senyap biarpun ia sepertinya sedikit ketertaluan bertahan dalam tempoh itu.

Aku tidak menjawab sebarang panggilan daripadanya, terhanya sepatah dua mesej yang tidak melibatkan soal kami atau kejadian minggu lalu.

Justeru, lantai pekerjaan menjadi pilihan terbaiknya agar aku tidak mampu untuk menolak atau bersenyap lagi kerana maklum benar dia akan situasiku.

Drama. Dan, yaa... aku tidak akan pernah senang untuk menjadi  peran di dalamnya.

Kejutan yang tidak menambak-baik, namun berlapis menjadi tebal lebih dari sedia ada. Usah ditekan desak, kerana pada akhirnya Scorpio akan membuat laku di luar sangka-sangka kamu.

Meninggalkan lantai pekerjaan sekitar jam empat, memenuh ingin dramanya yang terhala ke hiruk pikuk kota dan pada akhirnya berhujung di bukit Ampang. 

Sesi menyusun aksara senyap yang panjang.

Aku diperhati pada asyik jari yang sengaja menekan-nekan telefon bimbit, tanpa mempedulikan indah panorama remang petang di hutan batu yang sayup dari pandang.

Dan, aku pasti si sepet ini dapat membaca tepat laku yang terbagi ini. 

[Scorpio x Scorpio] 

Thursday, September 14, 2017

~ TRAGEDI EMPAT BELAS SEPTEMBER ~


AWAL pagi 14 September 2017 yang membawa duka terpaling keras dengan berita tragedi kebakaran yag berlaku di Pusat Tahfiz Darul Quran Ittifaqiah, Jalan Keramat Hujung, Kuala Lumpur yang telah mengorbankan 23 mangsa di tempat kejadian.

Innalillahiwainnailaihirojiun. Alfatihah. Salam takziah untuk seisi keluarga anak-anak dan penjaga yang telah terkorban dalam tragedi ini dan semoga roh mereka ditempatkan di kalangan para solihin. Tenanglah kalian di sana, di Syurga yang dijanjikan Tuhan. Amin.

Kehilangan.

Dan, benarlah... berat mata yang memandang, berat lagi bahu yang memikulnya. Meski kata apa yang terpaling manis sekalipun kita tuturkan untuk menyenangkan hati 'mereka yang ditinggalkan' ini tidak akan pernah mengubah pecah di hati mereka.

Benarlah... Hanya mereka yang pernah merasai kehilangan sahaja yang akan benar-benar mengerti tentangnya.

Aku tidak mampu untuk terus membicarakan tentang tragedi ini dan, cukup sahaja ini. 

[Al-Fatihah]

Wednesday, September 13, 2017

~ ENERGI CAFFE LATTE ~

SEHARIAN bergelumang dengan urus perkerjaan di luar lantai semenjak awal pagi sehinggalah lewat petang. Lelah, namun merasa cukup senang dengan tugasan hari ini yang begitu banyak menyebelahiku selain berkesempatan mengisi perbincangan serius tentang hal-hal yang tepat dengan orang-orang yang tepat. 

Exciting.

Lebih manis, seusai itu bersambung di kedai kopi bersama 'teman lama' yang lebih setahun tidak bersapa temu. Drama yang berlaku siang tadi turut menarik beberapa mata yang memandang saat dia memberi reaksi umpama babak jejak kasih yang tidak dirancang-rancang.

Hari yang panjang.

Namun penuh warna-warni yang memberi energi baru untuk hari-hari muram yang terlalui beberapa hari terkebelakangan ini. 

[Cafe Latte.]

Tuesday, September 12, 2017

~ HOBI ~

PADA suatu kebersahajaan, ada bicara kecil yang begitu memberi kesan buat aku hari ini. Membuat lekat dalam fikir sehingga ke hampir lenanya.

"Hobi mak apa waktu sihat sebelum ni?"
"Hobi buat air milo saya.."

Lekat, dengan mesej kecil namun besar pengertiannya ini.

Doa kesejahteraan yang paling sungguh buat kamu wahai anak dan ibu. Doa ikhlas dari aku, dan hanya Tuhan saja tahu itu.

Bertabahlah untuk sebuah ujian yang tidak berpilihan ini. Semoga dihadap dengan waras cinta yang terbibit hidup tanpa pernah ada syaratnya.

Mudah-mudahan ada kesembuhan yang terizinkan. Amin.

[Kebiasaan yang men-jadi sa-buah kebiasaan... yang baru]

Sunday, September 10, 2017

~ CANGGUNG ~


AKU cuba bersikap senatural yang mungkin. Menghargai untuk hal-hal manis yang disua mereka yang dekat biarpun belum terdekat pada rasa.

Terima kasih untuk rasa yang penuh perhati.

Namun jujur aku katakan, perhati yang diberi-beri ini sedikit berjanggalan kepadaku. Bahasa tingkah itu membuat aku banyak membuat nafsir-nafsir yang kurang enak. 

Mungkin benar pada susun rasaku atau barangkali juga kurang tepat menurut yang lainnya. 

Namun, tingkah-tingkah yang berkecenderunganku itu membuatkan aku seperti kurang selesa meski sebaiknya aku terlihat beraksi natural demi memberi kebersahajaan. 

Lalu, berhentilah... kerana aku bimbang akan menjauhi kamu tanpa tersengajakan, meski kamu itu terlalu manis menyua tingkah.

Berpadalah wahai teman. 

Maaf yang didulukan andai aku menafsir salah, namun tingkahmu semenjak akhir ini sedikit membuat canggung.

[Natural] 

Saturday, September 09, 2017

~ ATHIRAH ~









TAJUK: Athirah
KARYA: Alberthiene Endah
TERBITAN: Noura Fiksi
CETAKAN: Pertama (Ogos 2016), Kedua Sept 2016) & Ketiga (Nov 2016)
HALAMAN: 383
HARGA: Rp79.000

Friday, September 08, 2017

~ BUAL ~


ADA satu-satu ketika,  kita merasa begitu mahu membuat bual dengan seseorang tanpa meski ia bukan suatu kebiasaan yang terlakukan. 

Bukan kerana mahu berkongsi cerita atau meluah berat dada, namun sekadar mahu menutur bual agar ternipis emosi yang mengacah-acah rasa.

Dan, yaa.. hari ini aku terlalu merasakan itu lantaran hampir terpecah menahan rasa. 

Kusut dan simpul seratus sehingga hilang segala tumpu di lantai pekerjaan dan pada akhirnya aku membuat putus meninggalkan lantai pekerjaan lebih awal pada hari ini dengan memohon pertimbangan dari sang kepala.

Sedangkan Jumaat seringnya menjadi hari terpaling sibuk dalam rutin seminggu pada lazmim selalu.

Unta hitam bergerak tanpa hala tuju terancang awalnya, namun pada setengah perjalanan hati membawa ke arah Kepong, atau lebih tepatnya ke Tanah Perkubuan Kepong.

Pada langit tumpah dengan begitu berat mengiringi, aku sampai juga ke puncaknya tanpa hati berbolak-balik.

"Assalamualaikum W. Saya datang ni... saya rindu awak. Saya sangat pecah saat ni. Dan, awak saja yang akan faham apa saya rasa. Dan, saya percaya awak masih nak paham saya kan walaupun awak dah ada kat dunia lain. Saya.. saya.."

Payung merah yang aku kepit sambil tangan menyelak bacaan untuk hadiahmu di sana terkuak dek angin keras yang mengiring langit tumpah membuat kurung biruku separuh lencun membawa sejuk menyucuk ke tulang.

Tidak sempat terhabis bacaan, dan aku lari ke unta unta hitam. Sambil percik-percik lumpur melekat membuat tanda pada kurung biru polos.

Aku mengangkat muka, melihat wajah sendiri di cermin. Antara tangis dan langit tumpah entah mana yang benarnya pada rasa hari ini. 

Apapun, saat mengucapkan selamat tinggal sambil unta hitam menuruni puncak yang cerun itu, ada sedikit kelegaan yang membuat singgah.

Lega kerana aku aku dapat membuat bual dan melepaskan rasa-rasa yang membuat singgah pada berantakan yang dicetus teman jiwa beberapa hari lalu.

Entah kenapa W, kamu itu masih menjadi tempat yang ingin aku tuju untuk membuat bual saat dalam pecah. Barangkali kerana hanya kamu yang mahu memahami aku meski terlalu sukar difahami kesenyapan aku ini.

Terima kasih kerana menjadi sahabat yang inginkan aku meski apapun aku..

[Lencon..]

Thursday, September 07, 2017

~ BISIK PADA LANGIT ~


BISIK Pada Langit. Benar-benar membisikkan sesuatu yang sangat dalam menyelinap dalam segenap rasa yang melingkar ke urat sarafku tanpa disua-sua keras.

Aku seperti melihat aku dalam Siti Hajar. Aku seperti melihat ayah dalam diri Pakcik. Terlalu hampir pada rasa yang ada. 

Dan aku percaya, jika kakak mahupun adik ada bersama sebentar tadi, mereka juga akan berasakan hal yang sama. Aku cukup yakin mereka akan terdetik rasa yang serupa pada segala bacaan yang 
terkongsi pada frame ini.

Aku dan ayah sebenarnya tidak pernah mempunyai hubungan yang begitu rapat dan dekat sehingga akhir perginya kerana sifat garang ayah yang menjadi batas halang yang terlaku keras semenjak awal aku mengenalinya sebagai lelaki pertama.

Namun sungguh terjelas dalam hidupku, akulah anak ayah yang paling mewarisi serba satunya dari dia, kecuali bengis dan garangnya.

Ibu sering menyebut tentang itu saat aku pmengomel-ngomel pada ketidaksetujuanku tentang ayah yang keras membataskan aku dengan segala satu mahunya.

Malah aku sering juga mengungkit akan cemburuku pada sikap ayah yang mendahulukan anak lelaki ayah berlebih dari perlu yang kadang-kala membuat hati membuat bantah.

Meski begitu, segala rasaku sentiasa dekat dengan ayah. Kasih yang tidak akan pernah teranjakkan walaupun seinci. Malah selepas akhir perginya dia, aku begitu lekat dengan kebiasaan-kebiasaan ayah yang sebelum ini tidak aku terlihatkan.

Kopi, tulisan, ceritera langit sehinggalah kepada hal yang terpaling kecil tentangnya dapat melekat tanpa disedar aku.

Tuhan, sampaikanlah rasa kasih yang terabadi buat lelaki pertama yang aku cintai ini. Semoga terjaga dia untuk kami yang terlalu amat mencintainya dengan segenap rasa yang ada.

Yaa... air mata tumpah tanpa mampu diseka-seka lantaran emosi yang terusik keras dengan sosok berbahasa senyap di sinema agung ini.

Bisik Pada Langit. Sebuah cinta yang sentiasa dibisikkan tanpa terdekat sedar dengan mahu.

Babak-babaknya digarap ringkas memperlihat jelas kebersahajaan yang seperti tidak punya apa yang menyentak. Namun pada saat mata dan hati kamu tidak terkalih mendengar suara-suara yang ada, air mata kami akan tumpah tanpa termahukan.

Pada babak Siti Hajar dan ayah memancing di jeti, aku melihat aku dan ayah sedang menyiapkan tukangan besi yang disenikan ayah. Yaa.. dengan jelas sekali bayangannya terlihat. Agh.. rindu yang tahun mahu digambarkan sebagai apa.

Tiada kata yang tepat untuk mengatakan tentangnya, melainkan rasa.

[Sedekat kita..]

Wednesday, September 06, 2017

~ LANGIT HITAM ~


LAMA kami tidak bertentang pendapat begini. Entah bila kali terakhirnya. Namun kejadian awal pagi semalam membuat cetus amarah yang bukan sedikit baik kepadaku mahupun teman jiwa.

Dia dengan alasannya, dan aku dengan pendirianku.

Bukan kerana tidak mahu kalah, aku cuma mahu dia mengerti yang sesetengah hal tentang aku, tidak harus dia tetapkan menurut mahunya tanpa terlebih dahulu membuat hitung.

Aku bukan sendiri, aku dipunyai. Meski apapun yang aku kejarkan, tidak akan pernah aku cicirkan dengan sengaja yang terpunya aku semenjak pertama mengenal dunia. Dia harus tahu itu.

Lalu bila dia mendahulu itu, aku menjadi kecil hati yang bukan kepalang.

Lalu terbatal segala yang diatur dia tanpa tahu aku meski segalanya sudah tersedia.

Pertama kalinya aku bertegas tanpa mengambil perkiraan yang diusul kerana terdahulu sebelumnya pada babak serupa aku telah memberi ruang sehingga hari ini ia terulang.

Amarahnya meraja, dan aku juga pada situasi yang sama. Tidak ternampak surutnya buat ketika ini.

Aku pandang pada langit hitam. Tidak lepas walau sekelip. Semoga surut rasa yang memukul hebat jantung ini. Semoga reda. Semoga mampu aku menghela nafas dengan setenang langit malam ini.

[Tanpa hitung]

Tuesday, September 05, 2017

~ CERITERA MIMPI YANG HIDUP ~


MIMPI itu percuma, maka bermimpilah. Itu yang pernah aku katakan kepada seorang teman saat kami menutur bual tentang masa yang terdepan pada ingin dia raikan.

Dan, hari ini doa teman ini dimakbulkan Tuhan dengan  membenarkan mimpinya itu yang terlihat pada realiti benarnya pada semua yang bersaksi.

Tahniah, untuk mimpimu dan keberanian itu.

Semoga hari ini menjadi pemula yang sempurna kepada angan yang lebih agung untuk jaluran babak depan teman ini.

Aku menumpang bahagia untuk kejayaan awal ini. Mudah-mudahan dia tidak akan pernah berhenti bermimpi meski sesekali terigau babak buruk yang membuat singgah pada atur jalannya.

Dan, aku juga percaya kerana mimpi itu bermula pada niat membahagiakan kedua orang tuanya yang menegak harap dalam kondisi yang tidak begitu membuat izin pada kesihatannya, ia mudahkan.

Mudah-mudahan Allah setuju.

[Berani ber-mimpi..]

Monday, September 04, 2017

~ BERAT ~


MEMBERIKAN ucap sampai bertemu lagi pada ibu sentiasa yang menjadi saat yang terberat untuk aku, meski terdekat sahaja jaraknya dengan hujung jari pada setiap saatnya.

Terbawa emosi itu sehingga tiba ke hiruk pikuk kota. Namun secawan dark mocha memberi sedikit tenang dari rasa yang meresahkan pada tepat waktunya.

Barangkali kerana kondisi ibu kali ini.

Tidak sering bersituasi begini, lalu aku merasa seperti berpetanda yang kurang enak pada rasa. Semoga tidak untuk yang tidak-tidak.

[Semoga-lah]

Sunday, September 03, 2017

~ LAUT LUAS ~


PAGI petang siang malam. Laut sentiasa memberi perasaan yang indah dan tenang buat aku. Mampu membuat reda mudah kepada segala sesuatu yang membuat haru.

Dan, hari ini aku mengadap laut luas dengan suatu yang rasa aman yang tidak tergambarkan pada kata. Deru ombak yang keras itu tetap sahaja menjadi terapi.

Keresahan semalam ditinggal hanyut dalam deru.

[Terapi]

Saturday, September 02, 2017

~ SESI, DAN BUKAN YANG HARUS AKU TEKUNI ISINYA ~


SESI yang tidak harus aku ikut, kurang lebih beberapa jam yang lalu. Tidak harus ada. Namun sikap naif itu sering sahaja menjerat aku pada suatu hal yang tidak aku terlihatkan akibatnya.

Barangkali benar, disedang 2017 ini, kenaifan 'sebegitu' sukar diterima percaya. Apatah lagi pada usia matang yang  mana mungkin seorang seperti aku ini tidak mampu mengerti sendiri, atau paling tidak, mencari sendiri jawapan kepada tanya-tanya yang polos itu.

Namun, itulah yang sebenar aku. 

Masih berbodohan dalam soal-soal mudah yang menurutku, bukan dunia yang harus aku tekuni isinya. Lalu naifnya itu tidak aku lihat sebagai satu 'kesalahan' meski pada akhirnya aku sendiri yang punya rasa kurang senang itu.

Menopang dagu seusai sesi. Yaa... bukan dunia yang harus aku tekuni isinya.

Tapi aku telah terlakukan itu, biar bukan kerana ingin menekuninya, namun ia tetap juga salah walau atas apa jua alasannya. Kerana pada suatu hakikat yang jelas, kenaifan itu tidak membenarkan apa-apa.

Barangkali benar... biarlah kita kekal tidak tahu untuk sesuatu hal yang kita  tidak perlu mengambil tahu tentangnya.

Dan, meski pada suatu kebersahajaan yang aku reaksikan, bukan bererti aku menerima, apatah lagi menyokong untuk segala satunya. Cuma kerana aku menerima keberadaan kamu sebagai yang aku namakan sahabat dekat. Tidak terlebih itu.

Aku mohon kemafaan untuk sesi yang tidak tersengajakan itu meski sebenarnya aku lebih melihat jawab-jawab yang diberikan spontan itu sebagai suatu hal yang tidak bertujuan seriusnya, malah sekadar bual kosong untuk menghibur. Begitu saja.

Ini kerana sesi itu seperti itu hanya wujud pertama kali sama mereka yang aku tidak silukan untuk berbodohan.

[Semoga aku ini tidak ter-lalu luros melihat sesuatu..]

Friday, September 01, 2017

~ AIDILADHA, DAN SEBUAH CINTA ~


SALAM AIDILADHA. Tanpa ayah bersama kami untuk tahun-tahun yang kelabu ini. Namun, semangat pergorbanan yang terbawa ini sering bersama-sama rasa kasih ayah sepanjang terpinjam buat kami semua.

Semoga ayah tahu, kami sentaisa menghargai segala pengorbanan ayah yang pernah terbagi dari hari pertama mengenal dunia sehingga hari ini yang memisah kita kepada kepada dua dunia yang berbeza.

Selamat Aidiladha ayah.

[AlFatihah]

Thursday, August 31, 2017

~ DEJAVU, DAN PERCIKAN DIDADA LANGIT HITAM ~


LAMA aku tidak melihat percikan bunga api sedekat, malah seindah ini. Sering aku dan teman jiwa memilih indah yang dari kejauhan demi terelakan lautan manusia yang membuat ghairah.

Dan, hari ini aku kembali melihat percikan ini dari sejarak ini.

Hasrat yang pada mulanya hanya untuk memenuh ingin sahabat june yang cukup bersinonim percikan bunga api ini akhirnya turut memberi senyum yang serupa buat aku saat menunggu detik percikan membuat indah pada dada langit hitam di celah menara kembar yang tidak pernah lepas dari pandanganku.

Ceritera baru. Merdeka dan percikan bunga api yang sudah lama tertinggal.

[Teman jiwa nun di selatan semenanjung tanah air, barangkali terdada di langit serupa] 

Saturday, August 19, 2017

~ RUNWAY GIRL ~








 TAJUK: Runway Girl
 KARYA: Casey Watson
 TERBITAN: Harper Element
 CETAKAN: Pertama (2016)
 HALAMAN: 277
 HARGA: UK£7.99

Thursday, August 17, 2017

~ UNTA HITAM.. DAN, ANGIN..~


KEJADIAN. Semenjak semalam aku bertangguh untuk mengisi angin unta hitam kerana waktu pulang yang begitu lewat memungkinkan kepada risiko yang tidak terjangkakan.

Lalu, saat pulang dari lantai pekerjaan hari ini, aku membuat putus untuk singgah di stesen minyak untuk tujuan yang sama. Sementelah unta hitam juga seakan tidak selesa bergerak berikutan masalah itu.

Sebolehnya aku mengelak untuk membuat singgah di ruang berkenaan pada waktu malam begini, namun kali ini aku tidak berdepan pilihan.

Memberhentikan unta hitam di tempat yang disediakan dan aku mengambil masa beberapa minit untuk mengingat cara bagaimana peralatan itu digunakan dengan betul sambil mata tercari-cari panduan yang boleh membantu.

Jujurnya selama ini aku tidak pernah melakukan sendiri melainkan dengan bantuan orang lain.

Saat aku terkial-kila mencari panduan untuk melakukan proses itu, dua buah motorsikal yang masing-masing tanpa pembonceng memperlahankan motor mereka berdekatan aku dan unta hitam. Sangat mencurigakan kerana mereka tidak kelihatan punya tujuan di situ.

Aku mengalihkan pandangan, seolah-olah tidak menganggap kehadiran mereka sebagai sesuatu yang mencurigakan. Sedang dalam hati, Tuhan sahaja yang mampu mendengar.  Peralatan tadi diletakkan tanpa sempat aku menggunakannya.

Tergesa-gesa aku ke unta hitam dengan menggunakan pintu penumpang dan terus menghidupkan unta hitam untuk meninggalkan tempat tersebut. Mungkin kerana panik dan ketakutan aku sedikit cuai sehingga melanggar pembahagi jalan di sebelahnya.

Saat itu kedua buah motorsikal tadi segera berlalu sambil beberapa kali menoleh ke arahku.

Berbaur perasaan. Dan, sepatutnya aku berbuat demikian pada tengahari tadi.

[Tangan yang di-atas..]

Wednesday, August 16, 2017

~ PADA KESEMPATAN MELIHAT BULAN, BINTANG.. ~



JIKA orang lain sibuk menghidupkan alarm untuk waktu bangkitnya setiap pagi, aku pula dalam situasi yang berbeza apabila mengharapkan alarm untuk memberi peringatan kepada  aku meletak lena pada waktu yang telah ditetapkan.

Ia telah aku lakukan semenjak beberapa bulan lalu. Semenjak kondisi diri yang sepertinya mahu kembali mengulang saat-saat payah yang telah lama membuat damping pada segala urat saraf yang sedang menjalar di likat darah merah.

Lalu, lenalah untuk penyembuhan... lenalah untuk aman. Amin.

[Bulan dan bintang]


Monday, August 14, 2017

~ SESI SINGKAT ~


AKU kira semua orang berdepan risoki depresi. Cuma bezanya bagaimana kita mengawal dan mengurus segala sesuatu yang menekan itu ia tidak mendahului waras diri.

Benar, dan yaa.. ia tidak semudah yang ditutur pada kata, namun terapi itu kita sendiri yang terpunya.

Semogalah terjauh dari segala sesuatu yang di luar atur fikir, tidak hanya untuk diri tetapi juga buat semua kita ini.

Terngiang cerita terkongsi auntie phia beberapa minggu lalu tentang bagaimana harus kita berwaspada pada segala tanda awal yang menjengok risiko kepada itu dan kembali aku kongsikan kepada teman yang seorang ini.

Pada sesi singkat siang tadi, aku sekali lagi mencadangkan teman ini jalan mencari terapi. Bukan kerana berlebih tahu, cuma membantu atas ruang mampu yang tidak terluakkan.

Jujurnya, aku juga sering berdepan ketekanan yang mengacah-acah aman setiap kali berdepan simpul seratus yang tersengaja membuat pecah meski hanya pada sekecil keping puzzle. Dan, yaa.. kerana kita ini manusia biasa semestinya tidakkan terlepas dari kekalutan seperti itu.

Namun, kewarasan itu harus tetap berada di asalnya.

[Doa kesejahteraan buat kamu..]  

Sunday, August 13, 2017

~ KETEWASAN DAN SEBUAH KEPOLOSAN ~


BUKAN kopi biasa. Namun kopi yang bersahut air mata yang terlekap seribu satu cerita yag dipuzzlekan dengan dengan keras sekali.

Aku menatap wajah teman yang seorang ini. Dirundukkan wajahnya tidak mahu bertentang mata, tersekat-sekat dia membuat tutur cerita cerita tidak seperti lajunya air mata yang deras menuruni wajah polosnya.

Awalnya aku dipelawa untuk ke rumahnya, namun atas keberadaanku yang sedikit keberatan untuk menjadi tamu di persekitaran bangsawan itu, aku mencadangkan kedai kopi terdekat sebagai ganti.

Sedang adik-adik barista baru hendak memulakan cerita mereka, kami berdua sudah membuat lekat di situ, pada suatu sudut yang yang sering menjadi setiap kali aku membuat singgah.

Kaca  mata hitam tidak dibiar lekang dari untuk menutup sugulnya wajahnya, meski pada hakikat tidak tertutupkan sugul emosinya yang membuat pecah.

Dua hari lalu dia terawangan, melarikan diri dari kenyataan keras yang harus dihadap telan. Memilih jalan yang pernah dipilihnya lebih setahun yang lalu.

Puncanya masih serupa. Lelakinya masih juga yang sama. Dan, dia terbenam pada berat emosi yang berulangan. 

Aku fikir, malah dia juga fikir sesi pulih bersama sang profesional lebih setahun lalu itu memberi ruang, rupanya tidak.

Depresi. Yaa.. sekali lagi soal ini menghambat-hambat pada ruang fikir yang sebelum ini terjarang amat aku membuat peduli. Dan, apabila lagi dan lagi kejadiannya melingkar pada manusia dekat sekitar, aku menjadi semakin takut dengan kekejaman dunia.

Dia menelan pil untuk lari daripada segala yang menekan hidupnya lebih smeinggu lalu. Tidak tertanggung tahan katanya. Bukan untuk mengakhiri hidup, tetapi mahu lari seketika katanya.

Dan, aku tanpa berselindung membantah jawapan itu. Mendiamkan dia dari kerasukan rasa yang jelas masih bersisa.

Berganti kopi. Bersama Mud Muffin mississippi yang kembali dipanaskan lagi dan lagi.

[Men-chari harga yang ber-harga]

Saturday, August 12, 2017

~ DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN ~







TAJUK: Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
 KARYA: Tere Liye
 TERBITAN: PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta
 CETAKAN: Ke- 25 (June 2016), Ke-26 (Ogos 2016), Ke-27 (Sept 2016), Ke-28 (Okt 2016), Ke-29 (Dis 2017), Ke-30 (Mac 2017) & Ke-31 (April 2017)
 HALAMAN: 256
 HARGA: Rp53.000

Friday, August 11, 2017

~ TELAH TIADA ~



BERULANG kali aku membaca baris status yag tertera di laman media sosialnya. Pertama kali melihat tulisan itu, aku pantas  merasakan ia didedikasikan buat aku.

Namun, entah kenapa aku membacanya tanpa rasa.

Andai dulu, mungkin iya. Aku melekat pada mahu untuk sentiasa menjaga segala sesuatu demi harmoni.

Namun hari ini rasa itu telah tiada.

Lalu usah ditutur lagi bicara tentang harga yang sudah tidak duduk pada harganya lagi. Tidak perlu juga memuji untuk suatu pujian yang sudah tiada erti.

Moga kebangsawanan kamu itu tidak lagi tercemar dengan gaulnya aku. 

Jujur, sukar aku membaca apa yang sedang disusun-susun kemas dalam kepalamu. Namun, aku telah lama memilih untuk tidak mempeduli, kerana kamu menarik aku ke lubang yang sama.

[Timbang kati]

Thursday, August 10, 2017

~ SURAT KECIL UNTUK TUHAN ~


AKU juga punya surat kecil untuk Tuhan. Telah lama aku kirim, dan kini masih juga mengirim. Aku tahu, malah yakin sekali surat itu dibaca, cuma yang tidak aku tahu bila mungkin isi surat itu aku peroleh balasannya. 

Surat kecil untuk sebuah mahu yang begitu besar. Aku tulis dengan ratap tanpa air mata, aku sampulkan dengan harapan tanpa putus asa. Semoga didengari.

[Mudah-mudahan Allah setuju]

Wednesday, August 09, 2017

~ BELUM KE AKHIRAN ~


AKU pernah punya, tidak sempat menghabis baca, dan kini sudah tidak punya. Terkilan kerana tidak menjejak ke pengakhirannya.

Justeru, tiap kali melihat buku ini berkelibat di gedung, aku seringkali akan capai dan baca helai-helai yang masih berbaki menurut keluangan yang tersempat. Begitu yang aku lakukan hari ini pada waktu-waktu mengisi tunggu lewat petang tadi.

Namun, aku tidak membelinya. Kerana aku pernah punya walaupun kini sudah tidak punya.

[Tidak juga habis..]

Tuesday, August 08, 2017

~ ULANGAN KEGILAAN ~


HARI ini aku punya kesempatan untuk pulang lebih awal di rumah. Turut membolehkan aku bersesi-sesi dengan kakak yang jarang sekali bertemu muka pada hari bekerja lantaran masa kami yang tidak pernah sepadan pada satu ruang yang serupa.

Dia membuka cerita yang panjang tentang viral tentang Myvi Hijau, pembuli jalan raya yang hangat menjadi bualan selama beberapa hari ini. Begitu dan begini. 

Turut dipesannya aku dengan seratus lapan belas panduan jika  nanti berkeadaan serupa.

Aku hanya senyum, dengar dan angguk-angguk tanpa sedikitpun ada keinginan untuk berkongsi tentang apa yang telah aku lalui petang Sabtu lalu. Biarlah babak itu tanpa tahunya, kerana jika dalam tahunya, pasti sahaja aku perlu menghadap dua puluh lapan syarat tertambah.

Dan, yaaa... kisah pembuli jalan raya ini kini semakin berleluasa. Menunjuk hebat tidak terlayak. Semoga ada sesuatu yang boleh dilakukan untuk menghentikan kegilaan ini.

[Buli] 

Sunday, August 06, 2017

~ SANG PENGHEBAT DI JAGAT ALAM RAYA ~


SELAMA lebih sepuluh tahun memandu, siang hari tadi aku mengalami pengalaman pertama menjadi mangsa pembuli jalan raya yang aku kira tidak bersebab tujuan untuk menunjuk lagak hebat menagih hormat yang tidak terlayak.

Aku tidak mengejar masa, apatah lagi tergesa-gesa mengejar sesuatu.. membolehkan aku memandu dalam keadaan yang aman dan tenang-tenang sahaja. Sementelah destinasi singgahan sebelum menyambung perjalanan ke KLPAC itu hanya mengambil masa kurang lebih tiga puluh minit sahaja dari rumah.

Namun, baru sepertiga memula perjalanan ketika mahu mengambil exit untuk merentasi jaluran ke tol, aku tiba-tiba dihonk secara berterusan oleh sebuah kereta yang dipandu oleh seorang lelaki Melayu yang kemudiannya memotong keras dan memberi isyarat agar aku berhenti di depan.

Jujurnya aku tidak tahu atas sebab apa, namun mungkin kerana panik dan tidak mahu dia berterusan mengejar sambil membunyikan honk, aku tanpa berfikir panjang menurut arahannya untuk berhenti. Ya, berhenti di laluan yang amat sibuk dengan kenderaan yang laju menuruni jalan raya yang sedikit tinggi menjurus ke jaluran tol.

Aku keluar dan berdepan dengannya untuk bertanyakan apakah yang berlaku sehingga dia bertindak sedemikian rupa, dan jujurnya ketika itu aku tidak fikirkan tentang soal bahayanya tindakan aku itu (sehingga pulang ke rumah dan berfikir kembali) kerana mungkin ketika itu aku benar-benar tidak tahu apa yang berlaku dan panik apabila diperlaku begitu.

Katanya dengan suara yang tinggi, aku telah menghimpit keretanya ketika mengambil lalauan sehingga hampir (atau telah) melanggar keretanya, sambil dia mengacah membuat pemeriksaan di bahagian depan keretanya. 

Hampir (atau telah) melanggar??? Aku turut melihat bahagian kereta yang dia tengokkan, namun tiada langsung kesan atau tanda berlaku perlanggaran, tidak juga ada segaris calar baru yang diberikan (andai benar). Dan dia masih mengomel panjang.

Oh Tuhan.. drama apakah.. sedangkan kereta kami terjarak pada laluan berbeza dan paling penting aku sendiri tidak tersaksi sebarang kejadian salah laku, kalau benar ada kejadian itu berlaku, mana mungkin aku tenang-tenang sahaja memandu di depannya sebelum dia memotong laju dan memberhentikan aku di bahu laluan paling sibuk itu.

Aku mendengar sahaja segala yang suarakan, dan yang hanya ditutur aku hanya ucapan maaf sekiranya benar aku berlaku salah. Dua kali aku ucapa kata serupa kerena tidak mahu berlama-lama di laluan itu seolah mahu emnggadai nyawa sendiri.

Dia masih berkata-kata itu dan ini, namun aku sudahkan dengan menganggap bahu dengan isyarat tangan tanda bingung apa sebenarnya yang dia mahukan dari aku sebenarnya.

Hujungnya dia berlalu begitu sahaja, dan aku menggelengkan kepala kebingungan.

Apapun, doa kesejahteraan buat kamu sang pemandu yang paling berhemah dalam jagat alam raya.

Dan, aku belajar daripada kebodohan dan kenaifan diri yang berani menrisikokan diri berkonfran sedemikian rupa, sedang aku tidak sepatutya berbuat demikian (kata teman jiwa bernada marah).

[Gila nombor dua puloh lapan]