Thursday, April 14, 2016

~ SUATU YANG ENTAH ~


AKU rasa dan seperti menyedari ada angin laju yang mengacah-acah ke hati dua kami. Namun aku tidak sempat untuk membuat peduli lantaran terhambat urus pekerjaan yang begitu meminta dalam seminggu dia terkebelakang ini.

Tidak sempat untuk tanyakan khabar, apatah lagi untuk duduk menghirup secawan mocha sebagaimana lazim selalu. Bukan beralasan, namun benar-benar tidak bertemu kesempatan. Di benak, aku menghitung-hitung untuk mencuri sedikit waktu yang tersisa untuk memberi sedikit aku kepada kamu wahai sahabat.

Namun dalam acahan membuat hitung dan menunggu ruang, angin rajuk kamu laju yang menampar pipi dengan keras. Laju yang pada perkiraan lain juga seperti ribut yang membuat lintas. Aku terpinga, tanpa sempat memberi ruang buat sel-sel otak berhubungan untuk memberi reaksi yang sepatut. Apa ada perkataan atau perlakuan dari akukah yang menyeru ributnya menampar diri?

Berganti hari, ruang sosialnya tiba-tiba ditutup untuk aku. Ditukar segala agar tidak terjejak aku. Segala-galanya secara tiba-tiba selepas satu bual sinis terberi. Aku menopang dagu. Memikir punca atau alasan yang paling sepadan untuk aku cantumkan puzzle yang berlopongan ini. 

Bagaimana paling manis harus aku bereaksi?

Jangan sering merasa hanya kita yang punya hati dengan fungsinya. Jangan sekali melihat sempurna diri termengatasi benarnya orang lain. Jangan pernah dengan sengaja untuk menduga-duga sakit tidaknya orang lain. Jangan pernah juga kita meragui persahabatan yang telah padan eloknya termiliki kita sekian lama.

Kamu itu telah mengggores kulit jantungku.

[Kalau-lah kegeniusan kamu itu pada dudok-nya..]

No comments: